balon

Minggu, 25 Oktober 2009

Sapaan Cinta


Ketika cinta kembali menyapa
Ku terjatuh tiada daya
Lisanku tak mampu bicara
Pandanganku tak mampu menyapa

Kini cinta itu kembali bersemi
Menghiasi hati yang pernah tersakiti
Menerangi mata yang telah buta
Menyapa jiwa yang pernah terluka

Kini cinta itu kembali tumbuh
Mengangkat tubuhku yang rapuh
Menghibur mata yang menangis
Menghibur jiwa yang terkikis

Kini cinta itu kembali datang
Menenangkan pikirang yang bimbang
Menyapa hati yang sedih
Menyapa jiwa yang merintih


Pancaran mentari tlah menyentuh
Membangkitkan jiwaku yang luluh
Tuk menggapai cinta nan luhur
Cinta yang disertai syukur

Ku tak ingin hidup terhina
Di atas cinta berselimut hawa
Ku ingin cinta nan mulia
Di atas ketundukan pada Sang Pencipta

Ku tak ingin cintaku ternoda
Ternoda oleh balutan hawa
Terkotori oleh nafsu dunia

Bak mayat yang berjalan
Bergerak, tapi tak punya tujuan
Terkekang tali-tali setan

Semoga,
Sayap patahku
cukup menghangatkan pangeran hati
Yang melambungkan bahagiaku,
meneduhkan di saat diri telah merapuh
Kini kumengerti arti penantian
memahami makna gelombang sebelum daratan
saat ksatria kejora memanah mendung di angkasa
derai tawaku menjadi bintang di langit terang
binar mataku cahaya di jiwanya
dia labuhan hatiku

Sabtu, 24 Oktober 2009

Syukurku

SYUKURKU
http://images.ni2s.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R6LSAwoKCj0AAFj3Kbo1/9.jpg?et=pi%2CVeniF6cngiWEWlad4rw&nmid=
Setiap kedip mataku Ya Allah,
Aku bersyukur atas nikmat ini.
Banyak orang melihat, tetapi buta.

Setiap tarikan napasku Ya Allah,
Aku bersyukur atas nikmat ini.
Banyak orang mencium, tetapi tidak mampu membau.

Setiap suara yang kudengar Ya Allah,
Aku bersyukur atas nikmat ini.
Banyak orang mendengar, tetapi tuli.

Setiap desir angin yang kurasa Ya Allah,
Aku bersyukur atas nikmat ini.
Banyak orang merasa, tetapi kebal.

Setiap degub dan detak jantungku Ya Allah,
Aku bersyukur atas nikmat ini.
Banyak orang hidup, tetapi mati.

Akhirnya Ya Allah,
Jangan Kau cabut rasa syukurku ini dari hatiku,
Yang dapat membuatku buta, bebal, tuli dan mati.

Minggu, 18 Oktober 2009

AWAL PUISI

Dengan puisi aku bernyanyi sampai senja umurku nanti

Dengan puisi aku bercinta berbatas cakrawala

Dengan puisi aku mengenang keabadian yang akan datang

Dengan puisi aku menangis jarum waktu bila kejar mengiri

Dengan puisi aku memutih nafas jalan yang busuk

Dengan puisi aku berdoa perkenankanlah kiranya